Bagi seorang guru, belajar tidak pernah berhenti. Setiap pengalaman baru adalah bekal untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik. Semangat itulah yang dibagikan Guru MIN 1 Cianjur, Eva Nur Fauziyyah, saat ditemui Tim Humas pada Jumat (24/07/2026) usai mengimplementasikan hasil pembelajarannya dari program Wardah Inspiring Teacher.

Eva mengawali kisahnya dengan momen yang begitu menginspirasi ketika mengikuti Opening Ceremony Wardah Inspiring Teacher di Sabuga Institut Teknologi Bandung (ITB). Mengusung tema “Dari Kelas untuk Kebaikan Tanpa Batas”, kegiatan tersebut mempertemukan ribuan guru Indonesia dengan para tokoh pendidikan nasional, di antaranya Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Brian Yuliarto, Direktur Jenderal GTK Kemendikdasmen RI Nunuk Suryani, Rektor Institut Teknologi Bandung Tata Cipta Dirgantara, Co-founder ParagonCorp Salman Subakat, serta Brand Ambassador Wardah **Dewi Sandra>, bersama para guru inspiratif dari berbagai penjuru negeri.

Di tengah puluhan ribu pendidik yang memiliki mimpi yang sama, Eva bersyukur dapat menjadi salah satu peserta yang lolos seleksi. Dari sekitar 30.000 guru pendaftar, ia berhasil melanjutkan perjalanan bersama 25.000 guru dalam program yang dirancang untuk melahirkan pendidik-pendidik pembawa perubahan.

“Program ini menyadarkan saya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari ruang kelas. Setiap kata yang diucapkan guru, setiap kegiatan yang dirancang, bahkan setiap perhatian kecil kepada murid dapat menjadi awal lahirnya kebaikan tanpa batas,” ungkap Eva.

Selama mengikuti Wardah Inspiring Teacher, Eva memperoleh penguatan kompetensi dalam pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning), literasi Artificial Intelligence (AI), serta Computational Thinking. Baginya, ketiga kompetensi tersebut bukan sekadar mengikuti perkembangan zaman, tetapi menjadi bekal untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, kontekstual, dan berpusat pada murid.

Kini, Eva telah menuntaskan tahap Penjelajah Makna dan berhasil melangkah ke tahap Penenun Aksi. Pada tahap ini, setiap peserta diminta menenun gagasan menjadi aksi nyata di sekolah masing-masing.

Semangat itulah yang diwujudkan Eva pada Jumat (24/07/2026) melalui pembelajaran berbasis proyek di kelas II MIN 1 Cianjur dengan tema Adab Menghargai Teman. Di dalam kelas, peserta didik tidak hanya mempelajari konsep akhlak melalui teori, tetapi juga diajak mengalami, merasakan, berdiskusi, dan mempraktikkan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran menjadi ruang untuk menanamkan empati, membangun kepedulian, serta menguatkan karakter mulia sejak usia dini.

Bagi Eva, keberhasilan seorang guru bukan diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, melainkan dari nilai-nilai kehidupan yang tumbuh dalam diri setiap murid.

“Saya percaya bahwa kelas bukan hanya tempat belajar membaca, menulis, atau berhitung. Kelas adalah tempat menumbuhkan karakter, menyalakan harapan, dan membentuk generasi yang akan membawa kebaikan bagi masa depan. Ketika guru terus belajar, maka murid pun akan terus bertumbuh,” tuturnya.

Komitmen Eva menjadi cerminan semangat guru-guru MIN 1 Cianjur yang senantiasa membuka diri terhadap inovasi, mengembangkan kompetensi, dan menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai akhlak. Dari ruang kelas sederhana, lahir langkah-langkah kecil yang diyakini akan memberikan dampak besar, membuktikan bahwa setiap guru yang terus belajar sedang menenun masa depan Indonesia—satu kebaikan, satu kelas, dan satu murid pada satu waktu.

Kontributor: Isep Bunbun Sihabudin


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *